Selasa, 13 Mei 2014

Cerpen "Kehidupan Kumbang Tak Bersayap"


KEHIDUPAN KUMBANG TAK BERSAYAP
Karya: Akhmad Fadel Fadilla
Ngiiung.. ngiung….Terdengar suara nyamuk yang sedang mengitari tujuannya, yaitu tubuh seorang remaja berbadan kekar yang tertidur pulas di atas ranjang kayu yang dilapisi samak yang anyamannya sudah tak lagi utuh.
“ Paakk” terdengar suara tepukan yang cukup keras,. Tepukan tadi ternyata bersumber dari  remaja yang tertidur itu.  tidurnya  kali itu benar-benar terganggu oleh suara nyamuk sampai waktu subuh tiba.
Kreek. suara dari ranjang kayu yang sudah tua. terbangunlah sesosok remaja berbadan kekar berkulit, sawo matang. “ Huahh” remaja itu menguap seraya merenggangkan tubuhnya. “Bang! Bang Sabil, bangun bang!” terdengar suara seorang wanita menyebut namanya. “ Ia mak, Abang sudah bangun kok,” lalu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka. “ Mak, tumben jam segini emak udah bangun? Biasanya abang yang bangun duluan terus bangunin emak sama ade, hehe..” Tanya lelaki itu sambil tertawa merasa dia yang paling keren. “ Huuh.. enak aja emak juga sering kali bangun masih subuh kaya ini Cuma emak sengaja aja pura – pura tidur biar abang yang ngebangunin ade dan biar abang sering bangun subuh supaya badanya bugar, kan malu punya badan kekar tapi lesu, hehe..” balas emak kepada lelaki itu. “ Ya, ya bu. Eh ngomong- ngomong ade udah bangun belum?”.
 “Dar!” terdengar suara orang yang mengagetkan lelaki itu dari belakang, dengan reflek lelaki itu berteriak “Waah”dan sempat meloncat kedepan akibat suara itu. “ Hahahaha..” terdengar suara anak kecil yang sedang tertawa. Lalu lelaki itu pun menengok kea rah suara dan tertawa juga, rupanya yang mengagetkannya tadi adalah adiknya Yuda yang sengaja mempersiakan untuk mengagetkan kakaknya. “ Yah ternyata kamu Yuda, dikirain kamu belum bangun.” Kata lelaki kekar yang dikageti oleh adiknya. “Huuu.. abang baru bangun ya.! Ade udah dari tadi loh bangunnya, haha.. abang tadi kaget ya ade kerjain? Ayo jujur aja” jawab adiknya. “ Ye.. enak aja, kata siapa abang kaget! Abang cuma latihan lompat aja tadi sih” mengelak dari pertanyaan adiknya agar tidak malu sambil membusungkan dada. “ Hushh.. udah – udah, tadi abang emang kaget ko, Sekarang abang dengan ade bantuin emak ya, abang ke kebun ambil pisang terus jangan lupa dipotong dan ade beresin rumah” kata emak melerai perdebatan abang dan ade “ Siap Kapten!” jawab abang dan ade kompak setelah mendapat perintah dari Kapten mereka (Emak). Lalu pergilah mereka  ke tempat tugas mereka masing – masing.
            Sabil pun pergi ke kebun untuk mengambil pisang dan Yuda tetap di rumah untuk merapikan rumah. Sabil adalah seorang lelaki bertubuh kekar berkulit sawo matang yang sekaran sedang duduk di kelas XI SMA di daerahnya. Ia tinggal bersama ibu dan adiknya karena ayahnya telah wafat sejak ia duduk di kelas 6 SD, setelah ayahnya wafat ia mulai bekerja dan membanting tulang untuk hidupnya dan keluarganya sehari – hari, ibunya bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah orang kaya yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal Sabil dan keluarga, adiknya adalah seorang lelaki yang tanggunh juga ia bernama Yuda dan sekarang ia duduk di kelas 5 SD pada sekolah yang tak jauh dari rumahnya.
Sabil adalah seorang yang pintar di sekolahnya dan ia selalu menjadi bintang kelas setiap tahunnya begitu pula adiknya ia juga selalu menjadi bintang kelas di sekolahnya, mereka sangat senang bekerja dan belajar apalagi jika disatukan menjadi “bekerja sambil belajar” atau sebaliknya. Bekerja adalah makanan sehari - hari Sabil mulai dari pagi sebelum sekolah dia mengurusi kebun peninggalan ayahnya dan tak jarang ia berjualan gorengan atau makanan – makanan penyegar pada pagi hari yang disiapkan oleh ibunya kemudian ia pergi ke sekolah untuk memenuhi kewajibannya yaitu belajar, lalu setelah pulang sekolah ia menyiapkan makan untuk keluarganya dan melanjutkan dagangnya sebagai penjual gorengan sampai sore hari bahkan terkadang sampai malam hari dan baru setelah semua pekerjaannya beres ia belajar dan mengerjakan tugas dari gurunya dan tak jarang sewaktu jualan jika ada waktu kosong ia mengerjakan tugas sekolahnya. Walaupun ia bekerja hampir setiap waktu dan terlahir dari keluarga kurang mampu bukan halangan baginya untuk berkarya dan bercita – cita yang tinggi dan ia bukan termasuk orang yang ketinggalan berita – berita baru (KUDET = Kurang Update), karena ia selalu menyempatkan membaca koran dan menumpang apabila ada warung atau toko yang menyalakan televise untuk mendapatkan berita baru dan ia mempunyai sebuah cita – cita yaitu menjadi pengusaha besar yang karyawannya ia rekrut dari orang – orang yang tidak mampu yang mempunyai skill yang hebat dan ia juga akan mendirikan sebuah kursus bagi yang berminat menjadi karyawannya dari golongan orang yang kurang dan tidak mampu secara gratis. Setelah pekerjaan mereka beres pada pagi ini mereka bersiap – siap untuk pergi ke sekolah lalu mereka berpamitan kepada emak, “ Be The Best Don’t Be The First “ kata emak ketika setiap hari mereka berpamitan untuk pergi ke sekolah dan kata – kata itu selalu menjadi pegangan mereka pada setiap pekerjaan.
            Sesampainya di depan kelas.“ Hei miskin! “ terdengar suara yang memanggil Sabil, “ Hei miskin! Sini!” terdengar sekali lagi suara yang ia pikir mengarah kepadanya. Ia pun bingun dan mencari sumber suara itu, kemudian ia baru menyadari bahwa orang yang memanggilnya ialah “Rendy And The Gang” salah satu orang kaya di sekolahnya  yang banyak gaya dan mempunyai banyak pendamping ( bodyguard ), padahal itu temannya sendiri. Namun Sabil tak menghiraukan mereka dan melanjutkan masuk ke kelas untuk belajar. Kriing… Kriing.. Kring… Bunyi bel pulang telah berbunyi, ketika yang lain sudah keluar kelas Sabil masih di dalam kelas mengerjakan PR, setelah PR selesai ia pun merapikan bukunya dan pergi ke rumah untuk melanjutkan pekerjaan. Namun ketika dalam perjalanan ia dihadang oleh Randy dan teman – temannya, “ Hei, kau sombong sekali hidup jadi orang! Emang kau siapa? Orang kaya? Anak pejabat? Atau anak Presiden? Kata Randy “ Hahahah! “ teman – temannya Randy tertawa. Lalu sabil berkata sambil tertawa “ Hahaha!, kalian lucu banget sih, kan kalian sudah tau saya bukan anak orang kaya, pejabat apalagi anak presiden.” “ Hahaha” mereka tertawa lagi. “ Diam! Inget kita kesini mau ngapain” teriak Randy, dan yang lain pun terdiam setelah mendengar Randy berteriak. Lalu mereka bergerak menuju Sabil lalu memukulinya, Sabil tidak melawan mereka karena mau bagaimanalagi ia hanya menangkis pukulan demi pukulan yang ia terima namun tak membalasnya, karena ia berfikir jika ia membalasnya pasti masalah akan semakin panjang dan tak melawan bukan berarti takut. Setelah “Randy And The Gang“ puas memukuli dan mencaci maki Sabil mereka pun pergi namun sabil membalasnya dengan senyum.
            Sesampainya di rumah ia bertemu dengan adiknya, “ Bang, ko baju abang lusuh banget trus muka abang ada yang biru?” Tanya adiknya Sabil sambil menaruh tas dengan muka heran    “ Haha! Biasa de, abang jatuh tadi dari pohon, muka abang nabrak batangnya jadinya gini deh” Jawab sabil dengan  menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi sambil pura – pura tertawa.”Abang bohong! Abang pasti habis dipukulin sama Randy dan teman – temannya kan? Kenapa sih abang gak pernah ngebalasnya? Abang kan kuat, kekar lagi. Pasti mereka takut sama abang” Sahut adiknya dengan nada kesal. “ Yaelah de, cuma gini sih gak masalah, udah gak usah dibahas lagi. Lagian abang juga bisa sambil latihan kan biar tambah kuat, Haha!” Kata Sabil dengan santai seolah – olah tidak ada beban. “Yaudah deh bang, tapi kan…” kata adik “ Tapi apa?” kata Sabil memotong perkataan adiknya. “Iya deh, ade inget kok kata – kata abang. Jika ada masalah datang , Hadapi Hayati Nikmati” sahut adik dengan nada yang malas. “ Iya, gitu dong! Baru namanya ade abang! Hmm.. De, makan dulu yuk. Abang mau jualan hari ini, ade mau ikut ga?” sabil berkata sambil mengalihkan pembicaraan, “ Ayo deh bang! Eh emang makanannya udah disiapin?” kata ade.” Waduh, belum de kayanya sih, hehe” Jawab Sabil dengan nada sedikit malu. “Yah abang, tadi katanya ngajak makan tapi belum ada, gimana sih?” kata Yuda dengan nada yang kecewa.”Waduhh.. Maaf ya de! Yaudah deh kita siapin bareng – bareng aja yuk?” jawab Sabil sambil mencoba menghibur Yuda.” Yowes lah bang! Ayo kita buat sama – sama”. Mereka pun mulai menyiapkan makanan dengan asyik sehingga raut muka Yuda yang tadinya kesal menjadi ceria.
Hari demi hari berganti semua berlalu seperti biasa, namun siang ini Sabil merasa kaget karena ia dihadang lagi oleh Randy dan teman – temannya dan beberapa hari lalu memukulinya sampai babak belur. Awalnya Sabil berfikir bahwa mereka akan memukulinya lagi, tetapi apa yang ia fikirkan itu sangat berbeda dengan yang terjadi. “Bil, maafin aku ya!” kata Randy sambil berjalan menghampirinya. “Bil, mau gak kamu maafin aku?” tanya Randy sekali lagi sambil memeluk dengan nada yang berat lalu menangis. “Iya aku maafin kok, malahan udah aku maafin dari waktu pertama kamu mukulin aku.Aku gak apa – apa kok! Udah masalah yang lalu gak usah difikirin, sekarang kenapa kamu minta maaf sama aku sambil nangis lagi” jawab sabil seraya menenangkan Randy yang sedang menangis.
“Jadi gini Bil, aku sedang ditimpah bencana. Ayahku meninggal dalam suatu kecelakan 3 hari yang lalu” Randy menjelaskan apa yang sedang menimpanya. Sabil pun tercengang seketika seolah ada benda berat yang menimpanya, “ Apa!? Yang benar kamu Ren “ kata Sabil dengan nada yang tak percaya. “ Iya Bil, waktu ayahku pulang kerja malam hari ia mengalami kecelakan beruntun di Jalan Tol, lalu ia langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Namun, apa daya Yang Maha Kuasa telah memanggilnya.
Nyawanya tidak terselamtkan bersama 4 orang korban lainnya waktu kecelakaan itu, sekarang aku jadi orang biasa – biasa lagi” Jawab Randy dengan nada yang terputus – putus. “ Hmmm.. jadi kamu merasa berat yah, yang dulunya orang kaya sekarang jadi sederhana?” Balas Sabil sambil mengangguk – anggukan kepalnya. “Bukan gitu Bil, tapi ada sih pemikiran kaya itu sedikit tapinya. Aku butuh saran dari kamu yang udah ngerasa gimana pahit manisnya hidup dalam keadaan yang susah” Jawab Randy. “ Hahaha! Jadi kamu galau ya!” kata sabil dengan tertawa – tawa. “ Hmmmm.. Iya Bil, seperti itulah. Makannya aku minta sarn dari kamu” Kata Randy dengan sedikit malu.”Hahaha.. Gak punya uang atau harta banyak? Ngapain galau, santai aja kali inget No Money No Cry “ Jawabnya dengan santai sambil mengangkat tangannya seperti berdo’a dan mengkerutkan dahinya. Randy pun tertawa setelah mendengar kata-kata dari Sabil dengan gaya sepeti itu.”Udah santai aja oke! Inget nih kata – kata yang jadi peganganku selama ini sampai aku bisa ngerasa Happy aja tiap ada maslah. Jika ada masalah datang, Hadapi Hayati Nikmati. Coba kamu fikirin apa arti dari kata – kata itu” Kata Sabil.  Raut wajah Randy pun berubah yang awalnya sedih sekarang menjadi riang gembira. Siang itu Sabil terus bercakap – cakap dengan Randy mengenai cara ia hidup dalam keadaan yang sulit hingga tak sadar bahwa hari sudah sore dan teman – teman Randy meniggalkan mereka yang tadi sedang asyik mengobrol. Dan akhirya Randy berpamitan kepada Sabil dan berkata “ Bil, Thanks banget ya! Gak akan aku lupain kata – kata kamu Bil!” “Sip Ren! Santai aja oke, apa yang sedang menimpa kamu bukan akhir dari segalanya” sahut Sabil. Merekapun pergi ke rumah mereka masing – masing. Ketika dalam perjalanan pulang Sabil baru ingat bahwa ia harus menyiapkan makan untuk adiknya, lalu dengan segera ia lari menuju rumah.
Sesampainya ia di rumah, ia melihat pintu rumanya ternyata pintu rumahnya terbuka. Lalu ia masuk kedalam dan langsung mencari adiklangnya. “De, ade dimana?” sahutnya di rumah yang sangat sepi dan ia mengulanginya beberapa kali. “Apa? Ade? Apa yang terjadi padamu?” Teriak Sabil setelah melihat melihat adiknya terkapar di lantai rumahnya. Sabil pun merasa bersalah dan bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, setelah melihat adiknya terbaring di rumahnya sendirian.
 Tiba – tiba adiknya  terbangun dan merengek kelaparan dengan wajah seperti ingin pingsan. Dengan segera Sabil menuju dapur. “Wahhh! Apa – apaan ini? “ teriaknya kaget melihat banyak sekali makanan yang tersaji di dapurnya yang semula kosong itu. Ia pun langsung menuju ke tempat adiknya terbaring tadi dan ternyata adiknya sudah tidak ada di tempat tadi. Kebingungannya semakin bergejolak dan menimbulkan banyak pertanyaan dalam dirinya “ Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa aku mimpi? Ahhh..  Apa maksud dari semua ini “ ujar Sabil dalam batinnya. Lalu Sabil berdiri tercengang masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, “ Daar” terdengar suara yang mengagetkannya dari belakang ketika ia sedang melamun. “Waaa” dengan spontan Sabil berteriak sembari melompat kaget, “Hahaha..”  Yuda tertawa terbahak-bahak. “Aduh bang Sabil.. Abang ngelamun aja sih bang, hahaha” Ujar Yuda dengan penuh kesenangan.
 “ Ohh.. Ternyata kamu ya Yuda. Huh, abang hampir jantungan tadi kamu kagetin. Eh bukannya kamu tadi pingsan di sini kelaparan, kenapa jadi senang gini? Terus kok di Dapur jadi banyak makanan sih?” sahut Sabil dengan tampang yang kebingungan dan shock karena kaget tadi. “Ohh..Jadi gini ceritanya bang,  tadi ada banyak orang yang nunggu di depan rumah pakai seragam SMA, terus ade samperin. Mereka bilang kalau mereka teman abang, terus mereka ngasih banyak sekali makanan katanya untuk keluarga kita. Terus ade nanya, ini dari siapa ya mas? Mereka jawab ini titipan dari teman baik bang Sabil.”.Sabil terdiam sejenak dan memikirkan siapa orang yang telah memberikan semua itu, tiba-tiba seperti ada suatu bisikan bahwa yang memberi semua itu adalah Randy.
Suasana di Gedung Olahraga sekolah sangat ramai karena hari ini sedang diadakan acara wisuda untuk angkatan 23 SMA Bina Bangsa. Hari ini menjadi hari terakhir Sabil menjadi siswa SMA dan beralih ke Mahasiswa“Selamat bagi para alumni angkatan 23 SMA Bina Bangsa semoga apa yang   telah kalian pelajari dapat berguna untuk masa depan kalian” Ujar Pembawa acara pada acara wisuda angkatan 23 SMA Bina Bangsa. Sabil dan teman – temannya berfoto bersama dan berceria ria. Wisuda pun berakhir, siswa – siswi SMA Bina Bangsa pulang ke  tempat mereka masing-masing.
“Hei, Sabil”, Terdengar suara yang memanggil Sabil dari belakangnya, lalu ia pun menoleh kearah suara itu.”Oh, hai Randy!” Ternyata orang yang memanggilnya adalah Randy. “Hmmm.. Bil kamu habis lulus mau nerus kemana?”Tanya Randy sambil tersenyum.”Oh, kalau aku mau nerusin ke Perguruan Tinggi, ya ngarepnya sih dapet beasiswa dan aku yakin  aku pasti bisa” Jawab Sabil dengan penuh semangat dan senyum – senyum sendiri. “Ohh, yaudah deh Bil semoga sukses” kata Randy sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong kamu mau kemana habis dari sini?” Tanya Sabil. “Umm.. kalau aku kayanya sama kaya kamu, aku mau nerusin ke Perguruan Tinggi dengan beasiswa” Jawab Randy dengan nada penuh keyakianan. Lalu merekapun bercanda tawa dan berbagi cerita satu sama lain. “Eh, gimana kalau nanti kita kumpul-kumpul lagi kaya gini dan di tempat ini?” Tanya Sabil. “Oke, aku setuju, tapi kapan?” jawab Randy dengan penuh semangat lalu mengangkat bahunya.”Gimana kalau 5 tahun setelah ini? Setuju gak?” ujar Sabil kepada Randy, “Setuju!” sahut Randy. Dan mereka pun membuat kesepakatan untuk bertemu di Gedung Olahraga sekolahnya.
Angin terus bertiup, waktu terus bergulir hingga kini tak terasa sudah 5 tahun berlalu sejak wisuda angkatan 23 SMA Bina Bangsa. Artinya hari ini Sabil Akan bersua kembali bersama Randy sesuai janjinya 5 tahun yang lalu tepatnya di Gedung Olahraga SMA Bina Bangsa.
Sabil berdiri di depan Gedung ini, sesosok pemuda memakai kemeja biru muda dengan lengan yang digulung tiga peremat berjalan medekatinya. “Lama tak berjumpa, kawan.” Lelaki tadi memegang bahu Sabil. Sabil merangkul bahu sahabatnya itu.
“ Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi, Ran.” kata Sabil dengan mata berkaca-kaca. “Kau tak berubah, teman!” Ujar Randy mengeratkan rangkulannya.”Kau juga” tutur Sabil.










BIODATA  PENULIS
Nama                           : Akhmad Fadel Fadilla
Tempat Lahir               : Pandeglang
Tanggal Lahir             : 30 April 1998
Judul Cerpen               : KEHIDUPAN KUMBANG TAK BERSAYAP
Sekolah                       : MAN Insan Cendekia Jambi
Alamat Domisili          :Jl.Lintas Jambi – Muara Bulian Km.21 Kel.Pijoan Kec.JalukO                                          Kab.Muaro Jambi Prov.Jambi
E-mail              : atenyomu@gmail.com
Facebook          : Fadel Fadilla
Twitter                        : @FadelFadilla
Motto              :  “Hidup Mulia Atau Mati Syahid”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar